Melintasi jalan Trans Sulawesi yang melewati Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), jika dilakukan dari arah Makassar, kita akan melewati sungai yang menjadi batas penghubung dengan Kabupaten Maros, warga setempat menyebutnya Sungai Kali Bone, meski dalam Wikipedia disebut Sungai Binanga Sangkara, percabangan hilir sungai merentang hingga di beberapa desa di Pangkep juga di wilayah Maros, begitu juga hulu sungai yang bermuara di Selat Makassar yang menjadi pintu masuk para nelayan, baik nelayan pesisir dari dua kabupaten atau nelayan dari pulau-pulau di Pangkep.
Memasuki wilayah perkotaan, berjarak sekitar tujuh kilo meter dari Kali Bone, Sungai Pangkajene yang membela kota menjadi lanskap dan menyajikan tampakan wilayah pegunungan di sisi timur dan jalur ke wilayah kepulauan di sebelah barat. Sungai Pangkajene juga bermuara ke Selat Makassar dan menjadi pelintasan yang ramai dalam menunjang akomodasi warga dari wilayah kepulauan menuju dataran induk.
Saban pagi kita bisa melihat aktivitas yang padat di Dermaga Pasar Pangkajene, perahu dari beberapa pulau terdekat akan sandar untuk pengantaran penumpang dari pulau atau, mereka yang sedang ingin berangkat menuju pulau. Begitu juga dengan aktivitas bongkar hasil tangkapan nelayan masih menjadi pilihan selain beberapa dermaga yang lain. Hal itu berkesesuaian dengan banyak motif seperti temuan yang dipaparkan para peneliti dalam buku ini.
Persinggungan peneliti dengan narasumber yang dijumpai menunjukkan adanya proses berbagi pengalaman bahari yang dituturkan melalui cerita yang saling berjejalin. Tuturan kisah yang jarang kita dengarkan sejauh ini sekaitan wacana poros maritim. Mereka, para narasumber yang dijumpai itu, adalah pelaku ekonomi maritim yang mengisi ceruk terdalam dari jaringan ekosistem yang lebih besar.
Buku ini pertama kali terbit di tahun 2023 yang merupakan buah dari program Peneltian dan Penulisan: Meneroka Budata Maritim di Pangkep Melalui Narasi Pelabuhan Rakyat yang didukung Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan Tahun 2023.
Di tahun 2025 buku ini direspons oleh Dhiya Nasywa Fadhilah, mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), Institute Teknologi Surabaya yang hendak mengeksplorasinya ke dalam bentuk buku visual. Selain sebagai tugas akhir (S1), Dhiya juga mendorong karya kreatif komunitas sebagai pilihan dalam mendukung tumbuh kembang kerja-kerja pengarsipan sekaligus uji kapasitas tentang bagaimana menyambungkan ekosistem komunitas dan dunia akademik.
Komentar