Kira-kira di tahun 2014 ketika hiruk pikuk keseharian kita berisi kampanye politik pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, tahun yang sama ketika gelaran Piala Dunia 2014 digelar di Brasil, juga gelaran Liga Champions Eropa musim 2013-2014.
Dua tahun kemudian giliran Piala Eropa dan Copa America Centenario (perayaan 100 tahun Copa America) di tahun 2016. Nah, di tahun-tahun itu, saya aktif menulis sejumlah catatan bertemakan sepak bola. Lalu, di tahun-tahun selanjutnya, dengan lambat saya tetap menulis beberapa catatan guna merekam peristiwa sepak bola yang saya anggap perlu dituliskan. Tepatnya, berkesempatan menuliskannya.
Peristiwa sepak bola di latar tahun-tahun itulah catatan ini bertumpuh, yang di antaranya telah tayang di media cetak seperti Tribun Timur, juga di media daring Panditfootball dan Fandom. Sebagian lagi tayang di blog pribadi: kamar-bawah.blogspot. com.
Edisi revisi ini dibagi ke dalam tiga tematik: Manusia, Ruang, Kuasa, Buku dan Film. Beberapa catatan saya tambahkan untuk menerbitkannya kembali ke dalam edisi revisi ini mengingat sebelumnya, di cetakan pertama dengan oplah sangat terbatas di tahun 2018 silam belum ada (sedikit) ulasan yang membicarakan sepak bola Indonesia.
Khusus di bagian Buku dan Film, di cetakan pertamanya tidak ada, saya tambahkan untuk menampilkan sejumlah ulasan buku sepak bola, termasuk sejudul film yang sempat saya tuliskan ulasannya. Oh iya, ulasan buku bertajuk Tidak Ada Arab, Tidak Ada Gol merupakan catatan baru dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya, saya pikir sebagai penanda atas terbitnya edisi revisi ini.
*
ENTAH APA jadinya hidup bila manusia tidak menciptakan sepak bola. Memang kita pun jadi saksi betapa olahraga lain pun memberi kita begitu banyak momentum filosofis, tapi sepak bola-lah yang yang mampu mendorong lahirnya begitu banyak catatan dari sastrawan, jurnalis, dan cendikia Indonesia mulai Gus Dur, Cak Nun, Sindhunata, dan sederet penulis yang terinspirasi olahraga ini yang muncul kemudian.
F Daus AR, kawan saya pun menyusun renungan dan amatannya tentang sepak bola selama 15 tahun, yang dihimpunnya dalam antologi Orang-orang di Persimpangan Pinggir Lapangan ini. Buku ini, menurut Daus, diniatkan untuk menyambut Piala Dunia 2026. Tapi mungkin juga Daus, yang pada masa kecilnya mengidentikkan dirinya pada permainan gelandang bertahan Demetrio Albertini, sedang blunder. Buku ini justru mengantar saya menangkap kesan bahwa buku ini seperti merayakan ketidaklolosan Italia di ajang agung empat tahunan ini.
-Anwar Jimpe Rachman
Komentar