Di paruh awal tahun 2000-an, Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY) berfokus pada sastra untuk transformasi sosial yang terhimpun dalam keluarga Institute for Social Transformation (INSIST) sebelum berubah nama menjadi Indonesian Society for Social Transformation di kemudian hari, giat menerbitkan buku kumpulan puisi, cerpen, dan novel.
Ingat Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, novel yang dalam 20 tahun terakhir begitu terkenal dan telah diterjemahkan ke sejumlah bahasa, novel itu diterbitkan pertama kali oleh Jendela atas dukungan AKY di tahun 2002. Selain itu, AKY juga merilis News Letter On/Off dengan tagline: Media Orang Biasa.
Di perpustakaan Rumah Saraung terdapat 4 edisi On/Off (sayang, salah satu edisi sudah rusak dimakan rayap). Juga terdapat dua edisi On/Off berbentuk buku.

Tentu saja terbitan AKY sudah tidak aktif lagi, begitu juga dengan distribusi News Letter yang pernah singgah (dijual) di toko buku Papirus milik Sulhan Yusuf (toko buku ini juga sudah tutup), dulunya berada di jalan Perintis Kemerdekaan, area gedung PW Muhammadyah.
Produk cetak berupa News Letter dan majalah yang memuat karya sastra saat itu menjadi pilihan media baca alternatif karena harganya terjangkau. Satu edisi hanya Rp 5 ribu, begitu juga majalah sastra legendaris, Horison yang mematok harga Rp 8 ribu sebelum naik menjadi Rp. 12 ribu.
News Letter On/Off dan Majalah Sastra Horison menjadi rujukan untuk melakukan proses kerja penulisan yang coba dilakukan di Pangkep. Di tahun 2012, aktivasi penulisan sastra oleh anak muda di Pangkep mendorong terbitnya Majalah Sastra Lentera yang terbit tiga edisi.
Gelombang lanskap media digital perlahan mulai menggantikan produk cetak, gejala inilah yang menjadi sebab umum terhentinya ekosistem media cetak, khususnya News Letter dan majalah yang dikelola swadaya oleh komunitas. Beberapa media cetak kemudian secara bergantian mengumumkan pamit dan tutup, Sebagian di antaranya mencoba malih rupa dan menyesuaikan dengan lanskap digital.
Setelah lebih dua dekade, beberapa produk cetak yang tidak terbit lagi coba dihadirkan kembali melalui pindaian digital, upaya ini dilakukan untuk melipatgandakan, mengarsip, menyiapkan referensi, mendesiminasikan kembali produk kerja budaya cetak, atau mungkin juga hadir sebagai pertanyaan di masa depan yang belum terpikirkan di masa lalu.
Di satu kesempatan kami berupaya mencari kontak jajaran redaksi On/Off untuk mengabarkan sekaligus menyampaikan permohonan izin untuk melakukan pengarsipan ketiga edisi News Letter On/Off yang masih tersimpan. Gayung bersambut, melalui DM Instagram yang berlanjut di percakapan WhatsApp, Hasta Indriyana, sosok yang membidani Redaktur Pelaksana di On/Off merespons dengan persetujuan. “Wah, masih menyimpan On/Off, luar biasa,” tulisnya.
*
Digitalisasi produk cetak ini merupakan bagian dari program ar(t)sip guna menghimpun, mengarsip, dan mengelola penyediaan referensi bacaan.
Sila baca lebih lanjut di tautan berikut:
https://bit.ly/artsip10RS (Edisi 24/III/2004 (Mengenang Mansour Faqih)
https://bit.ly/artsip11RS (28/III/2004)
https://bit.ly/artsip12RS (29/III/2004)
Komentar