Memasuki tahun kedua Pandemi Covid-19 di tahun 2020 ini, rasa-rasanya hidup serupa di film I Am Legend yang dibintangi Will Smith, pengandaian ini mungkin agak berlebihan, tetapi ada paranoid yang tumbuh di kepala jika berjumpa orang-orang di luar.
Penjarakan sosial skala besar secara perlahan mulai merayapi desa. Di suatu hari ketika hendak menjenguk orang tua, sekelompok pemuda yang semuanya saya kenal, telah memasang sebilah bambu sebagai palang di ujung lorong menuju rumah orang tua.
Dalam hati bergumam, jalan itu jauh lebih saya kenali ketimbang para pemuda-pemuda itu. Saya menurungkan masker agar mereka mengenali saya. Namun, rupanya, mereka tetap awas dan mengukur suhu tubuh saya dengan thermogun.
“Dari mana mereka mendapatkan alat itu,” saya kembali bergumam.
Pemuda yang lain sigap mengarahkan agar kedua tangan saya disemprotkan disinfektan. Pada titik itu saya memilih diam dan tidak memulai tegur sapa. Hanya lempar senyum setelah saya diperbolehkan lewat.
Saya sendiri menjalani aktivitas yang sama, jauh sebelum Covid-19, saya memang jarang berkumpul dengan teman-teman jika tidak diagendakan. Menjenguk orang tua sekali atau tiga kali dalam seminggu merupakan rutinitas sejak saya tidak lagi lagi serumah pasca menikah.
Berdiam lama di rumah bagi saya, sudah bukan lagi new normal karena sejak dulu memang begitu. Beberapa catatan yang saya rangkum ini merupakan respons atas situasi yang berkembang di arus waktu yang saya akses di media sosial. Sejumlah tindakan mendorong membaca kembali sejumlah buku guna menunjang catatan atas isu yang dibahas.
Maksud dari catatan ini sederhana saja, ya sebagai ruang berbagi saja kepada teman-teman yang saat ini tengah berdiam diri di rumah. Barangkali saja catatan ini bisa menjadi teman rebahan di masa Pandemi Covid-19.
Selamat membaca.



